di situs Mantap168 Di zaman sekarang, semua orang pengen kelihatan paling jago. Paling cepat. Paling kreatif. Paling beda sendiri. Apalagi di era media sosial, dikit-dikit pengen viral, dikit-dikit pengen diakui. Tapi kalau udah ngomongin kerja tim, entah itu di sekolah, kampus, kerjaan, komunitas, bahkan di tongkrongan yang lagi ngerjain project bareng, satu hal yang sering jadi batu sandungan itu ya ego. Padahal kalau dipikir-pikir, sehebat apa pun skill lo, kalau mainnya sendirian dan gak bisa sinkron sama tim, hasilnya bakal pincang juga.
Banyak orang masih salah kaprah. Ngerasa kalau jadi pusat perhatian itu sama dengan jadi kontributor terbaik. Ngerasa kalau suaranya paling keras berarti idenya paling keren. Padahal dalam tim, yang dicari bukan siapa yang paling bersinar sendirian, tapi gimana caranya semua bisa bersinar bareng-bareng tanpa saling nutupin cahaya satu sama lain. Strategi tim itu soal pembagian peran, soal komunikasi, soal saling percaya, bukan soal adu dominasi.
Bayangin aja kalau dalam satu tim isinya orang-orang yang pengen jadi kapten semua. Gak ada yang mau dengerin, gak ada yang mau ngalah, gak ada yang mau support dari belakang layar. Ujung-ujungnya bukan cuma capek mental, tapi juga hasilnya amburadul. Diskusi jadi debat gak jelas, kerjaan jadi molor, dan suasana jadi panas terus. Padahal kalau masing-masing bisa nurunin ego dikit aja, ngasih ruang buat orang lain ngomong, dan fokus ke tujuan bareng, hasilnya bisa jauh lebih maksimal.
Strategi tim itu ibarat puzzle. Setiap orang punya bentuk yang beda. Ada yang jago ngomong, ada yang jago analisis, ada yang detail banget, ada juga yang kreatifnya gak ada obat. Kalau semua dipaksa jadi bentuk yang sama, ya gak bakal nyatu. Justru karena beda-beda itu, tim bisa kuat. Tapi syaratnya satu, semua harus sadar kalau peran masing-masing itu penting. Gak ada yang lebih tinggi, gak ada yang lebih rendah.
Masalahnya, ego sering bikin orang lupa sama tujuan awal. Harusnya fokus ke target bareng, malah sibuk pengen dapet kredit paling banyak. Harusnya mikirin solusi, malah sibuk nyari siapa yang salah. Ini yang sering bikin tim retak pelan-pelan. Bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang dewasa dalam ngatur ego.
Padahal kalau dilihat dari sisi strategi, tim yang solid itu biasanya bukan yang isinya orang-orang paling jenius, tapi yang komunikasinya paling sehat. Mereka bisa beda pendapat tanpa saling jatuhin. Mereka bisa kritik tanpa bikin sakit hati. Mereka juga bisa nerima masukan tanpa ngerasa harga dirinya diinjek-injek. Itu semua butuh kontrol diri dan kesadaran kalau kemenangan tim lebih penting daripada kemenangan pribadi.
Kadang ada juga tipe orang yang ngerasa kalau dia gak pegang kendali, semuanya bakal berantakan. Akhirnya semua hal pengen diatur sendiri. Niatnya mungkin bagus, pengen semuanya perfect. Tapi tanpa sadar, sikap kayak gitu bikin anggota tim lain jadi gak berkembang. Mereka jadi ragu buat ambil inisiatif karena takut disalahin. Lama-lama tim jadi bergantung sama satu orang, dan itu bahaya banget. Begitu orang itu tumbang, semuanya ikut goyah.
Strategi tim yang matang justru ngasih ruang buat semua anggotanya berkembang. Ada kepercayaan yang dibangun pelan-pelan. Kalau ada yang salah, dibenerin bareng. Kalau ada yang kurang, ditutupin sama yang lain. Jadi bukan soal siapa paling kuat, tapi gimana caranya saling nguatin. Ego yang terlalu tinggi cuma bikin jarak. Sementara kerja tim butuh kedekatan.
Anak muda sekarang sebenarnya punya potensi luar biasa buat bangun tim yang keren. Ide-idenya fresh, energinya gede, dan biasanya lebih terbuka sama hal baru. Cuma tantangannya ya itu tadi, gengsi dan pengen diakui kadang lebih besar daripada keinginan buat kolaborasi. Padahal kolaborasi itu kunci. Banyak project besar gagal bukan karena idenya jelek, tapi karena orang-orang di dalamnya gak bisa kompak.
Kalau mau jujur, ego itu gak selalu negatif. Ego bikin orang punya ambisi, punya keinginan buat jadi lebih baik. Tapi yang jadi masalah itu ketika ego gak dikontrol. Ketika ambisi berubah jadi arogansi. Ketika rasa percaya diri berubah jadi ngeremehin orang lain. Di titik itu, tim mulai goyah. Strategi secanggih apa pun gak bakal jalan kalau hubungan antar anggotanya retak.
Makanya penting banget buat bangun mindset kalau dalam tim, kita bukan lagi main buat diri sendiri. Kita main buat nama bareng, buat hasil bareng. Kalau tim berhasil, semua kecipratan bangganya. Kalau tim gagal, semua juga harus tanggung jawab. Gak ada tuh yang lempar-lemparan kesalahan. Sikap kayak gitu justru nunjukin kualitas kepemimpinan seseorang, bahkan kalau dia bukan leader resmi.
Sering kali orang mikir jadi leader itu soal kasih perintah. Padahal leader sejati itu justru yang paling bisa nahan ego. Dia mau dengerin, mau nerima kritik, dan gak takut ngaku salah. Sikap kayak gitu bikin tim respect secara natural. Bukan karena jabatan, tapi karena sikap. Dan dari situ, strategi tim bisa jalan lebih lancar karena ada rasa saling percaya.
Kalau lagi ada konflik dalam tim, cara ngadepinnya juga nunjukin seberapa besar ego masing-masing. Ada yang langsung defensif, ada yang langsung nyerang balik. Padahal kalau ditarik napas dulu dan diajak ngobrol baik-baik, banyak masalah sebenarnya bisa selesai tanpa drama panjang. Komunikasi jujur dan terbuka itu fondasi. Tanpa itu, strategi cuma jadi teori di atas kertas.
Di dunia yang makin kompetitif ini, kemampuan kerja tim justru jadi nilai plus yang dicari di mana-mana. Orang yang bisa kolaborasi biasanya lebih tahan banting dan fleksibel. Mereka gak gampang baper kalau idenya ditolak, dan gak gampang sombong kalau idenya dipakai. Mereka sadar kalau yang penting itu hasil akhir, bukan siapa yang paling sering disebut namanya.
Strategi tim lebih penting dari ego karena tim yang solid bisa ngelakuin hal-hal yang gak mungkin dicapai sendirian. Lo bisa aja jago banget di satu bidang, tapi tetap ada batasnya. Dengan tim, batas itu bisa ditembus karena ada kombinasi kekuatan. Syaratnya cuma satu, semua harus rela nurunin ego dan fokus ke visi yang sama.
Jadi kalau suatu hari lo ada di dalam tim dan ngerasa pendapat lo gak selalu dipakai, jangan langsung ngerasa diremehkan. Bisa jadi memang ada opsi yang lebih cocok buat kondisi saat itu. Dan itu bukan berarti lo gak penting. Dalam tim, kontribusi itu gak selalu kelihatan di permukaan. Kadang yang paling krusial justru yang kerja diam-diam.
Pada akhirnya, kerja tim itu soal kedewasaan. Soal gimana caranya tetap percaya diri tanpa harus merendahkan orang lain. Soal gimana caranya tetap punya ambisi tanpa harus menginjak yang lain. Ego boleh ada, tapi jangan sampai jadi raja. Karena ketika ego yang pegang kendali, strategi bakal berantakan. Tapi ketika strategi tim yang jadi prioritas, ego bakal otomatis nurut dan ditempatkan di posisi yang tepat.
+ There are no comments
Add yours